3 July 2009

kondom ini bisa ko dipakai bekal buat weekend. tentu saja memakai kondom ini barang anda akan lebih aman. tetap mulus meski kena banyak gesekan. Sampai sekarang baru tersedia kondom untuk jenis BB 83 xx, jave dan bold, ipone 3g nokia e71 dan nokia e63.
pilihan warnanya sebanyak pelangi. harganya cukup bersaing dibanding lapak lain. setara dengan secangkir kopi di starbuck. ya rp 60 ribu rupiah saja. minat, bisa pesan ke : hasan
phone / Sms : +62811853409 / +6221 - 98003277
Email : paguyubanmail@gmail.com atau hasanfajar at yahoo.com
ym : hasanfajar
ongkos kirimnya cuman @ 5000 area jabodetabek per kirim. untuk pembelian lebih dari 3, juga gratis untuk wilayah jabodetabek. dipilih dipilih …. klik selengkapnya
Filed by fanabis at July 3rd, 2009 under daily and tagged kondom blackberry bukan seks
6 persons have commented this post
1 July 2009

di kota yang sibuk ini, bekerja menjadi prioritas utama mayoritas penghuninya. apalagi kaum urbannya. tanpa bekerja, tak akan eksis. akrab dengan kafe, mal, lounge, facebook, twitter, macet, deadline, selingkuh, tagihan kartu kredit, bonus, target target. menikah, mengurus anak dan tiba-tiba ada telepon dari rumah, ibu meninggal.
serasa begitulah pengalamanku membaca novel dua ibu. arswendo atmowiloto mengingatkan kepada kita semua mengenai perjuangan seorang ibu. meski ibu dalam tokoh novel tersebut bukan ibu biologis. namun perannya melebihi seorang ibu yang sesungguhnya. beliau menyayangi semua anak-anak yang dititipkannya.
beliau sanggup merelakan kebahagiaannya sendiri, demi anak orang lain dengan perasaan bahagia. dengan peninggalan suaminya yang tak seberapa, ia membesarkan kesembilan anaknya. pada saat mamid khitan, ia harus menjual kursi, meja, sepeda dan beberapa pakaian untuk biaya.
sementara solemah yang sudah menikah dan tinggal di surabaya hanya bisa bercerita lewat surat mengenai kesibukannya. dan hal-hal yang menjengkelkan sebagai ibu dan isteri seorang kopral. begitu juga ratsih. dia hanya mengabarkan keadaanya yang baik-baik saja. tak ada rasa sesal atau kecewa dengan perilaku anak-anaknya.
satu-satu anak-anaknya menikah dan pergi. begitu juga barang-barang berhaga di rumah itu tak bersisa. puncaknya, ia harus menjual rumahnya untuk melunasi hutang-hutangnya. ia memilih pindah ke rumah kecil dekat kuburan. tragisnya, anak-anaknya yang masih kecil, prihatin dan priyadi diambil orang tuanya yang kini sudah kaya. beliau merelakannya dengan ikhlas.
sampai akhir hidupnya, ia tak pernah meminta balasan. bagai sang surya menyinari dunia. klise memang namun itulah fakta seada-adanya. tak pernah menghitung-hitung apalagi mengungkit-ungkit apa yang telah beliau lakukan kepada semua anaknya.
sampai diakhir suratnya, beliau menulis, “untuk anak-cucu semua di jakarta. hidup itu adakalanya gelap, adakalanya terang. jangan terlalu sedih kalau lagi gelap, jangan terlalu gembira kalau lagi terang. ibu tak bisa apa-apa, berjalan pun sekarang tak bisa. mintalah selalu kepada Tuhan. baginya selalu ada jalan bagi kita yang meminta…..
novel yang memenangi fiksi terbaik tahun 1981 ini mampu mengharu-biru siapapun yang membacanya. arswendo menggambarkan kasih sayang dan ketulusan ibu sangat sempurna.
Filed by fanabis at July 1st, 2009 under buku and tagged arswendo atmowiloto, dua ibu
11 persons have commented this post