mari menceritakan diri sendiri

Posted by fanabis on Jan 2, 2009 in daily |

ide itu gratis, tinggal metik dari udara, kata zen. namun kali ini aku mencomot ide dari blog maureen. ia menantang seberapa besar keberanianku menceritakan “aib” diri. sesuatu yang cukup personal untuk diketahui orang lain.

kebanyakan orang enggan menyebutkan usia, termasuk aku. kecuali untuk kepentingan adminsitrasi, pada kartu identitas dan dokumen konfidensial lain misalnya. meski usia biologisku banyak, usia psikis masih anak-anak. :)

aku selalu berusaha excited dengan hal-hal baru. perpustakaan, tempat yang pas. di sana aku bisa menemukan pemikiran, ide setiap orang  yang unik. dan nyaris 99 persen, topik bahasannya belum pernah aku tahu. gudang harta karun yang nilainya tak bisa di kurs.

apalagi, dalam ruangan sepi itu pelan terdengar musik gamelan atau suara josh groban, andrea bocelli, sarah brightman, christoper abimanyu atau jamie cullum. sesekali musik keroncong atau degung sunda juga lebih menyamankan waktu membaca.

aku sanggup berjam-jam di sana, meski sendirian. inginnya tak usah keluar mencari makan andai lapar. namun baiklah, untuk menghindari karedok, gado-gado, lotek, pecel, salad dan lalapan dedaunan lain mengotori buku aku terpaksa patuh pada aturan. warna hijau, kata temenku mirip makanan kambing.

untuk hal lain, aku suka warna putih. putih yang bersih, bukan putih melati atau putih yang pecah. terutama kemeja dan kaos. untuk celana dan sepatu sampai sekarang belum berani mencoba memakainya. mungkin ini berhubungan dengan kebiasaan burukku.

sedikit dari banyak kebiasaasn buruk yang aku punya adalah malas mencuci. celakanya aku tak begitu selektif dalam memilih tempat duduk. di sofa, kursi, di bangku atau di sebuah batu. apalagi jika jalan ke pantai, gunung, sungai atau danau yang jalanannya becek.

itu mengingatkan pada kampungku di ujung selatan pulau jawa. kepada setiap kenalan baru, aku selalu menyebutnya dekat darwin, austalia. begitu pelosoknya sangat sedikit orang pernah mendengarnya. namun aku tetap bangga pernah bertumbuh di sana.

di tempat itulah aku pertama mengenal huruf dan angka. juga kata, kalimat, alinea dan menuliskannya dalam selembar cerita. aktivitas itu lebih dahsyat dari yang pernah kubayangkan: aku seolah menjadi tuhan. mencipta karakter tokoh dan mempermainkan nasibnya.

tak ada yang lebih menyenangkan selain menulis. ketika teknologi memunculkan blog, otomatis tanpa berpikir aku menamainya, fanabis. (fun abis!). sengaja aku menuliskannya tidak memakai vokal “u”. aku pikir orang akan agak bingung melafalkan nantinya.

oh ya, orang menyebutku contrarian. contrarian is a person who takes a contrary position or attitude. menurutku temanku itu agak benar. karena aku suka mempunyai opini atau sudut pandang yang sangat beda, cenderung agak kurang waras. misalnya mempertanyakan semua hal.

sehingga aku sangat tidak nyaman dengan orang-orang yang selalu menghembus-hembuskan, diri, pandangan, opini dan keyakinannya yang paling benar. keanekaragaman itu kan template dari sananya.  sayang masih banyak orang yang harus belajar, termasuk aku. dan harapan terbesarku semoga kelak aku bisa mengetahui siapa aku.

dan aku memilih tak pernah pergi ke kampus, mahal. andai ada kesempatan, aku akan pergi ke negeri atap dunia. aku ingin tahu kenapa perempuan melakukan poliandrii di tibet? kenapa mereka mempersembahkan mayat kepada langit dengan mencincangnya?

ke lembah baliem, kepulauan raja ampat papua, bunaken, wakatobi juga tak kalah menariknya. namun menyelam ke dasar hati terdalam seseorang juga tak kalah indah dan menggetarkan.


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
  • Facebook
  • Google
  • TwitThis

57 Comments

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags:' <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


Copyright © 2000-2012 fanabis All rights reserved.
Desk Mess Mirrored v1.5.1 theme from BuyNowShop.com.