kenapa kau lepas jilbabmu?

jumat yang surprise, ketika memasuki lift aku berpapasan dengan teman. ia menceritakan sahabatnya yang kini nyaris tak dikenalinya. katanya penampilannya sangat beda. rambutnya berwarna hitam keungu-unguan tergerai. roknya tak sampai menutupi betisnya yang panjang.
entah kenapa ia melakukan tindakan yang cukup radikal itu. sahabatnya itu memusnahkan semua koleksi pakaiannya. kemeja dan rok panjang, jilbab dan semua atribut yang diwajibkan agama untuk seorang perempuan. ia telah mengganti isi lemarinya dengan baju-baju baru di mal-mal yang discount sepanjang tahun.
“kenapa kau melepas jilbabmu?” tanya temanku ini. sahabatnya itu tak mau menjawab. temanku berpikir pertanyaannya sangat biasa. entah seandainya diterjemahkan tak sopan. menurutnya peristiwa ini sangat menarik. karena sahabatnya itu belum menikah. ia memaparkan hasil amatannya, beberapa perempuan membalut rapat tubuhnya setelah menikah. beberapa “telat”, mereka melakukan setelah beranak.
temanku mencari tahu ke rekan kerjanya yang menurutnya “agak” tahu soal keimanan. terjadilah perang bubat di meja rapat yang dipakai makan bersama siang itu. semua menyanyangkan lalu mengecam, mendakwa dan memvonis. apakah tindakan perempuan itu suatu kemunduran, ataukan dia malah mengalami pencerahan? kebanyakan mereka mengatakan itu kemunduran.
beramai-ramailah mereka mencari kambing hitam. ternyata sangat gampang menemukannya. maka dilemparkanlah 2014 analisa penyebab tindakan yang menurut mereka nekat itu. kata mereka itu adalah pengaruh dari pergaulan, keluarga, pendidikan dan seterusnya dan seterusnya.
yang lain menganggap itu persoalan yang sangat personal yang tak harus diperdebatkan. yang penting dia baik. tak membuat keributan yang menyengsarakan orang-orang yang sedang menikmati kesenangan. tentang berdosa dan masuk neraka yang apinya menyala-nyala, itu urusan tuhan.
melihat itu aku diam saja. no komen. biar kayak artis yang seleb.
begitu searching, aku menemukan jawaban dari stevie. tentang perempuan yang melepas jilbab itu ia menuliskan, “kemunduran bila engkau menganggap orang-orang ini merosot imannya. kemajuan bila engkau menganggap orang-orang ini mau belajar untuk tidak munafik, mementingkan apa yang tak keliatan dibanding yang tampak”.



semoga dia di berikan Hidayah kembali oleh Allah untuk mengenakan Jilbabnya kembali. Amin…
[Reply]
KeduaXXX
??
[Reply]
Ups … Sampai segitu kah ??
Aku ikutan bang KW sajalah soal ini
smua soal kemantapan dan keyakinan kalau sudah soal beginian karena diri mereka yg tahu dan bisa menentukan mana yg terbaik
Salam
NB* Baru sekali ini bisa comment keduaXX
Kapan PerTamaXX ya
[Reply]
“Apa yang ada dalam kepala seorang wanita lebih penting dari apa yang menutup kepalanya”…
Queen Rania of Jordania.
[Reply]
aku punya teman yg seperti itu
yho wes ben lah, urusane dewe2 hehehee
[Reply]
tapi sik cawetan to? yo syukurlah…
[Reply]
saya lebih bisa menilai orang dari sikap dan prestasinya. kalau menilai dari pakaiannya, saya sering kali salah
[Reply]
Hmmm, setidaknya dia sendiri yang bertanggung jawab terhadap Tuhan, selama orang - orang terdekatnya sudah memberi pandangan….
[Reply]
ah… jadi inget tulisan mumu…
[Reply]
soal sudut pandang…
[Reply]
tergantung yang memandang… selalu begitu…
[Reply]
.sing penting ati ne, sing penting apik..sing penting ga merugikan orang lain
[Reply]
hidup itu pilihan..
yg lain hanya cukup mengingatkan..
[Reply]
semua perlu sarana, elok dimata, elok pula dihati itu yang dicari. Tidak pernah menyerah untuk jadi lebih baik walaupun terasa jalan masih terlalu panjang…..
[Reply]
setiap orang memiliki pikiran dan masalah masing2,yang belum tentu orang lain mengerti..mungkin dia punya alasan yang tepat untuk dirinya. Dan jawaban stevie sangat mengagumkan!
[Reply]
temanku juga ada yg seperti itu..
[Reply]
sedih mendengarnya
moga di berikan hidayah oleh-Nya
[Reply]
Semoga kembali menjadi muslimah yang anggun kembali , anggun karena pakaiannya dan hatinya …
[Reply]
yahh,,, begitulah….
[Reply]
seperti biasa, itu urusan personal dia dengan keyakinannya dan Tuhan.
[Reply]
kalau kita sdh tak tunduk dengan aturan, utk apa aturan itu dibuat
kalau kita tak takut dengan ajaran Allah, kepada siapa lagi kita ber-Tuhan.
kalau kita semua tak punya aturan, apa jadinya dunia ini
[Reply]
wajah luar dan wajah dalam itu dua hal yang nggak bisa dipisahin. dalam kondisi tertentu, jika harus dihadapkan pada pilihan yang sulit pastinya wajah dalam itu jauuh lebih penting. pun dengan pakaian… Tuhan itu melihat seseorang tidak hanya dari pakaian jasmaninya, tapi lebih pd pakaian ruhaninya. jadi menurut saya bagaimana seseorang mengikuti mode, sejauh tidak kelewat batas dan tidak sampai menanggalkan “pakaian ruhani” nya itu oke-oke saja.. manfaat itu sangatlah luas,dan apa yang tampak oleh mata telanjang itu sering menipu:-)
[Reply]
waduh… kok gitu?
ya… dia kan yg tanggung jawab atas semua yg dilakukan mas… kita cuma turut prihatin aja…
[Reply]
siapalah saya, menilai orang yang tidak saya kenal?
btw, kalo dibilang jarang ngeblog, rasanya enggak. tapi kalo jarang update, bisa jadi. tapi saya masih ngeblog, kok bung kw
[Reply]
isi hati orang, tak akan pernah bisa kita nilai,
tak bisa memvonis hanya dari pakaiannya saja..
[Reply]
wah,, apapun itu,, tergantung niatnya..hatinya lebih tw..
[Reply]
wah akau setuju sama mumu,komennya pas bangt..janglah blog dijadikan tempat membahas masalah yang begituan..pamali
[Reply]
wah gak tau nih musti komentar apa. isunya terlalu sensitif. dan mengarah ke sara. dan kurasa blog bukan media yg tepat utk membahas masalah beginian huakakakakakakakakakaa….
bung, titip salam ama temenmu itu aja, suruh tobat, kiamat sudah dekat huehehehe…
henie, inget tulisanku yg mana ya? kayaknya aku blum pernah nulis soal jilbab deh. oh ya salam kenal yaaa
[Reply]
aduh…jadi binggung mau komentar apa, jgn menilai buku dari covernya tapi lebih penting isi bukunya itu….hehe
[Reply]
belum tentu orang berjilbab itu lebih mulia dibanding yang tidak, penilaian ada di tangan Allah SWT semata
[Reply]
gerah kali
[Reply]
setiap seseorang yg telah akil baligh akan mempertanggung jawabkan segala perbuatannya pada Yang Maha berkehendak ^_^, kita sebagai sahabat hanya bisa mengigatkan saja… diluar sana masih banyak saudari2 kita yang ingin berjilbab tapi terhalang oleh beragam masalah…
[Reply]
aku setuju dengan bro dedi
[Reply]
sejujurnya… kalau untuk aku, yang penting itu tingkah laku, hati yang tulus, dan bagaimana dia menerapkan apa yang diajarkan agamanya pada kehidupan sehari-hari.
tentang baju, sepanjang masih sopan, menurut aku OK aja (kalo ada yg bilang sopan atau tidak mengundang itu relatif, betul… tapi ada standardnya… ada baju2 yang membuat orang menoleh ada yang tidak begitu, betul ngga…)
dan…
ini tidak bermaksud menyerang. aku tidak pro tidak kontra pada jilbab. semua kembali pada orangnya dan keyakinannya. asalkan… ya itu, dalam-dalamnya in line dengan apa yang dipakainya.
yang ini cerita nyata. baru sekitar 2 minggu yl aku di-curhati seseorang. anak gadis manis sekitar 25 tahun yang aku kenal.
dia cerita tentang temannya, perempuan juga, yang katanya suka dipukuli pacarnya, dan mereka hampir menikah, dan pacarnya membatalkan pernikahan itu. dan temannya setengah mati ngga mau putus pengen tetap nikah sama cowoq yang tukang pukul itu.
aku komentar begini,berusaha logis: ‘ngapain? putus aja. belom nikah aja udah mukul, apalagi udah nikah’
tapi lalu aku mendengar cerita panjaaaanggggg lagi, intinya katanya si ceweq itu ngga mau putus.
komentar keduaku, tanpa perasaan, berusaha logis lagi: ‘dia kebablasan ngga, waktu pacaran?’
wah, reaksi si gadis yg cerita pada aku itu betul2 seakan-akan aku makhluk dari planet lain, ha ha ha. lalu dia bilang: ‘mbak, yang bener aja, temanku itu pake jilbab.’
hmmm, aku bilang… ‘iya pake jilbab, tapi dia pacaran kan… bertahun-tahun. dan setelah dipukulin begitu rupa, ngga mau putus juga? tanyain dulu, bener ngga kebablasen?’
selang sehari dari situ, aku dapat SMS dari anak yang cerita itu: ‘mbak… ternyata betul, kebablasen. aku heran deh… dia kan… ‘
aku bilang, ‘tanya dia kenapa pake jilbab dulu itu’
jawabnya: ‘disuruh pacarnya.’
wah, aku berenti komentar aja deh. soalnya kalo aku komentarin lagi SMS itu, nanti jadi panjang. sejujurnya aku ingin komentar gini: ‘tanya, waktu dia disuruh pake jilbab sama pacarnya itu, apakah itu segera setelah… pengalaman pertama mereka melakukan “itu” ?’
sekali lagi, aku ngga bermaksud menyerang siapapun. with all respect to everybody… aku tidak bermaksud menyerang golongan manapun.
aku cuma mau bilang: don’t judge a book by it’s cover. jangan hanya menilai seseorang dari bajunya.
aku punya 1001 macam kisah seperti ini dalam berbagai versi.
menyedihkan. tapi nyata.
itulah kalau yang dipentingkan bungkus, dan bukan isi. mestinya balance keduanya. atau kalau baru bisa milih satu, benahi dulu isinya, baru bungkus.
salam,
d.~
[Reply]
setiap orang mungkin merasa nyaman dengan perubahan yang terjadi pada dirinya..
walaupun itu salah
[Reply]
kata bosku,”ada orang pake jilbab kita gak ribut, kenapa buka jilbab harus ribut?”
[Reply]
klo mengkomentari apa yg terjadi sama teman mu sy nggak tau bang, tapi sebagai seorang muslimah yg saat ini memakai jilbab tentu saya tahu akan godaan yg dihadapi baik dari org lain maupun diri sendiri, tapi alhamdulilah lingkungan dan teman2 sy menguatkan diri sy. karena tentunya menjadi org yg konsisten adalah susah, apalagi menjaga kadar iman.
semoga teman anda segera diberi petunjuk oleh Allah.
[Reply]
Mbahas filsafat aja ngelu jee, apalagi soal faith … ndak bakal ada titik temu. Topik berikutnya ?
[Reply]
wah.. wah,, boleh kutip dikit :
“kemunduran bila engkau menganggap orang-orang ini merosot imannya. kemajuan bila engkau menganggap orang-orang ini mau belajar untuk tidak munafik, mementingkan apa yang tak keliatan dibanding yang tampak”.
kutipan terakhir :
mementingkan apa yang tak keliatan dibanding yang tampak”.
hmm.. tasawuf “yang terlihat tidak selamanya seperti apa yang kamu bayangkan!!” hehe
it’s not what it’s looks like
[Reply]
mengko jilbaban neh nek wes bener2 matep atine, ben ra munafik.
[Reply]
Mungkin dia merasa menderita jika terus memakai. Semua orang ingin bahagia toh.
[Reply]
Aih, jawaban Stevie bagus sekali…
In my depth retrospect, I’m also considering it
[Reply]
touchy story…..salam kenal….
[Reply]
pencerahan seh menurutku. Bukankah konon islam itu ‘membebaskan’?
dan mungkin di dalamnya termasuk membebaskan dari belenggu jilbab. hehe
[Reply]
Sayang banget yah sampe melepas jilbab, padahal rambut jelas aurat perempuan..
Kalo ternyata jawaban sebenarnya adalah “kemajuan bila engkau menganggap orang-orang ini mau belajar untuk tidak munafik, mementingkan apa yang tak keliatan dibanding yang tampak”, dari pada jilbabnya yg di buang mending bagian munafiknya yg dibuang jauh2, biar makin sempurna imannya..
hehe gak ngerti juga sih, tapi kalo menurut ku mas, jelas itu bukan pencerahan
[Reply]
lam kenalllllllll
bagus sekali blognyaaa lam kenal yyyaaaa
hmmmm….
[Reply]
yang penting isi nya.hmm.hmm
[Reply]
saya stuju dengan eyang anjari
soal merosot imannya atau tidak, rasanya itu bukan hak kita untuk menilai.
[Reply]
Koruptor wajib Sholat,
Orang berdosa wajib Sholat,
Syariat tdk memandang banyak sedikit dosa.
Jika salah dihukumi salah. Jika benar dihukumi benar.
Jika berjilbab menunggu “hati ini putih bersih seperti kapas”,
niscaya seumur hidup ini tidak akan pernah kita dapati wanita berjilbab… hiks hiks
Jika sholat menunggu “hati ini putih bersih seperti kapas”,
niscaya seumur hidup ini tidak akan pernah kita dapati sholat jamaah… hiks hiks
Dan jika hanya mengandalkan, “hidup yang penting baik, tdk mengganggu orang lain”
niscaya seumur hidup ini kita tidak berpuasa, sholat dan berjilbab (bagi yg wanita)…
sebab sholat puasa dan berjilbab tidak membutuhkan orang lain, apalagi mengganggu orang lain…
Ibadah Hati memang Lebih Sulit dari Ibadah Dzahir…
Tapi apa yang nampak (Dzahir) adalah cerminan dari isi (Hati)…
Semoga Allah memberkati Hidup Kita Semuanyah…
BarakaLlahu fiikum…
[Reply]
Syariat yg artinya Aturan, membuat seseorang menjadi Hamba.
Hamba berarti Budak. Dan Majikannya adalah Allah…
Makna Pembebasan berarti “membebaskan diri” dari Penghambaan kepada selain Allah.
Penghambaan kepada diri sendiri, Penghambaan kepada uang, Penghambaan kepada manusia yg lain, dan segala macam Penghambaan kepada Makhluk, maka itu semua adalah obyek2 “Pembebasan”.
Namun kebanyakan manusia,
“Lebih ingin dihargai oleh Orang Lain, daripada dihargai oleh Allah”
“Lebih ingin disanjung oleh Orang Lain, daripadai disanjung oleh Allah”
Sebab memang dihargai dan disanjung oleh Allah tempatnya bukan di Dunia, tapi saat momen2 “Indah” di Akherat.
Harga Surga Memang “MAHAL”
[Reply]
komen2nya jauh lebih dahsyat dr critanya
[Reply]
susah kalo ngomongin soal ini , ini kan tergantung pribadi masing2
kembali ke orangnya heheheh
[Reply]
semoga hidayah segera datang
[Reply]
Lakum Dinnukum Waliyaddin…Bagimu agamamu Bagiku Agamaku…semoga bisa mencerna
[Reply]
Let’s get back to holy Qur’an and hadist….all of you can find then…
[Reply]
saya suka dengan yang ini!
[Reply]
“kemunduran bila engkau menganggap orang-orang ini merosot imannya. kemajuan bila engkau menganggap orang-orang ini mau belajar untuk tidak munafik, mementingkan apa yang tak keliatan dibanding yang tampak”.
aku suka banget kata2 ini! jadi mikir2 lagi mau pakai jilbab luar ato ngejilbabin yang didalem dulu~
[Reply]
Hmm …. susah berkata2 ..
sejujurnya saya senang melihat wanita berjilbab, rasanya adem aja ..
tapi kalau dari jilbab terus membukanya lagi, hmm .. mungkin dia punya alasan cukup kuat untuk itu ..
[Reply]