
aku duduk di sebuah gasebo bertarup serabut yang tiang-tiangnya menancap ke laut. air beningnya mengantar mata mencerap butiran pasir dasar laut semakin jelas. ikan-ikan berwarna pelangi beruncang-uncang kaki. desau angin yang sepoi mengelus-elus ujung nyiur. mereka mengajakku terus bercakap.
menemui sesuatu yang baru itu ibarat membaca puisi, kita tak akan pernah tahu endingnya. senja yang merah tembaga, mengejekku dengan seringainya. “andai kau tapaki setiap ceruk di muka planet ini, kau tak akan menemukan kenyamanan yang kau cari. kenyamanan itu menipu, namun disukai banyak orang.”
“cobalah sekali-sekali melanggar semua aturan suci yang kau yakini. menyantap rawon babi, merampok, mencuri atau korupsi jika tak punya nyali. jika jeli kau akan melihat hikmah ini. “mencari kenyamanan berdasar pada pemuasan hasrat keinginan hanya akan sia-sia. tak akan pernah terwujud”, lanjutnya.
“nyaris semua manusia kini sedang berperang melawan tuhan. mereka berebutan mengejar sesuatu dan memilikinya lebih dari yang dibutuhkan. terus mencari dan mengumpulkan sampai lupa kapan harus berhenti. untuk tahu kapan merasa cukup, sepantasnya berguru pada keledai.”
“mereka memuja kesenangan jasmani jauh lebih besar daripada memuja tuhan. mereka telah lancang merampas milik alam dan menyatakan sebagai miliknya: berare-are tanah lapang, empat isteri, enam belas anak dan tak terhitung selingkuhan”.
tubuhku diam. kupandangi angin yang entah kemana berarah. namun ia berbisik, semakin banglas.
“jangan terpaku terus memantapiku. lihatlah juga pohon-pohon bakau itu. terlalu fokus atau fanatik pada satu pandangan mengakibatkan kelalaian. dari gelembung ubur-ubur pun kau akan mendapatkan pelajaran. tak ada salah dan benar, jika keduanya tak pernah disandingkan.”
“segeralah pulang, meski hanya kucing belang yang mengharapkan. jangan pernah kau kecewakan, meski dia pergi setelah kenyang. lakukan juga pada orang yang terdesak kebutuhan, meski tiris persediaan. kau akan merasakan pengalaman yang tak sekedar nyaman. namun lebih menakjubkan.”
langit menggelap, memunculkan bintang bintang. air laut perlahan berubah keperakan. sebelum berpisah mereka memberiku mantera perpisahan. “pencarian kenyamanan fisik hanya menimbulkan peperangan, pencarian kenyamanan spiritual akan menimbulkan kedamaian.”
Tags: jalan-jalan, seberapa cukup



Fotonya keren.. jadi pengen ikutan duduk si situ sambil baca buku, minum capuccino dingin.. hhmm indahnya dunia
[Reply]
iya nih duduk disitu sambil menikmati angin segar dan minum juice, malamnya barbeque
[Reply]
Mari kita menjadi Abu-abu jika menjadi putih atau hitam sekalipun sangat susah
[Reply]
cantik sekali kata katamu mas
[Reply]
duduk disitu enak kali ya….
*membayangkan*
[Reply]
semilir…
[Reply]
Maka, ayo kita bergerak.. jangan terlalu terlena pada hal yang semu!!! ayo!!! kerja!!! kerja!!!
Nice Posting!!!
[Reply]
terlalu indah.. aku ngga nyampe..
[Reply]
ini tentang apa sih, mas?
[Reply]
sedang meresahkan apa kawan?
[Reply]
dirimu dimana mas kw? kok ngga keliatan
[Reply]
endingnya amat meresap. tapi aku paling suka kamu bilang, “korupsi jika tak punya nyali!” heh…. aku baru sadar. ternyata korupsi itu perbuatan sang pengecut ya! kasihan mereka…
[Reply]
sungguh bermakna..
[Reply]
makna terselubung yang susah saya cerna saat ini
[Reply]
Jadi ingat the law of diminishing returns, akan ada kepuasan yang terus berkurang akibat kita terus menambah, menumpuk, mengkonsumsi, terus dan terus. Dengan berbagi kepada sesama, apa yang kita tambah tidak akan mencapai titik jenuh, karena kita terus membaginya dengan yang lain… Begitu bukan, ya?
[Reply]
aduh indahnya tulisan ini…
gambaran tentang lautnya sudah begitu indah, inti isi tulisannya dalam pula…
adem gitu bacanya…
d.~
p.s: quiz yang kemaren sudah diumumkan di rumahkayu… dan ada quiz baru, untuk merayakan lima abad rumahkayu( ha ha! apa sih bedanya abad sama bulan?
) … ikutan jawab donggg… ditunggu ya
[Reply]
lumayan, klo dah bisa berbicara kepada angin…:-) nice job kang WE
[Reply]
wowww mas kw…. keren banget rangkaian kata2nya mas…. ck ck ternyata mas kw memang top markotop
[Reply]