Archive for May, 2009

cerita among

May 7th, 2009, posted in daily

siapa yang paling bersalah menghembuskan kematian itu mengerikan? mindset tersebut mengakibatkan semua orang berusaha habis-habisan mencegahnya. kalau bisa menunda atau menolaknya?

padahal kematian adalah suatu hal yang sangat wajar. proses untuk menuju ke fase selanjutnya. ke alam keabadian? belum tentu. hal itu sangat tergantung kepada energi positip yang telah kita ciptakan selama menghuni bumi.

diperlukan proses kelahiran ribuan kali untuk menuju ke alam keabadian yang menyenangkan. terutama untuk orang-orang yang selalu mencipta energi negatif. bisa-bisa mereka akan lahir kembali sebagai cacing. di planet inilah yang paling tepat kondisinya untuk terus memperbaikinya.

“aku ingin ini adalah kelahiranku yang terakhir, kata temanku. namanya among. untuk itu dia mempersiapkan keseharian hidupnya dengan serius. ia berusaha untuk selalu dalam keadaan “berkesadaran penuh”. sehingga ia harus mengendalikan pikiran-pikirannya yang pintar memanipulasi. karena di situlah tempat semua bermula.

menurutnya apa yang kita lakukan detik ini akan diproses alam secara misterius yang akan berdampak langsung kepada diri kita sendiri. ia lalu bercerita, sore itu ia diserempet metromini. ia menyadari sepenuhnya, hal itu adalah akibat dari perbuatan buruk masa lalunya entah kapan.

untuk tetap jauh dari pikiran-pikiran buruk, ia membiasakan tubuhnya untuk tak diberi asupan makanan setelah jam 12 siang. ia juga menolak perutnya dimasuki bangkai makhluk hidup. bahkan jika sesekor nyamuk yang menghisap darahnya, ia akan tetap membiarkan. namun jika sudah tak kuat lagi, ia mengusir dengan meniupnya.

selain itu ia juga menolak menikmati hiburan yang bisa membuat pikiran tak stabil. rutin meditasi. juga sering mencari para pemulung atau penyapu jalanan di seputaran jakarta untuk diberi nasi bungkus yang dibawanya dari rumah.

masih menurutnya ritual itu hanyalah sarana latihan untuk mencapai tujuan puncak. namun saat ini banyak orang terjebak pada zona nyaman ini. anggapan mereka, setelah melakukan ritual tersebut kewajibannya usai. padahal ritual itu tak berefek apa-apa pada orang lain. idealnya ritual itu bisa mencapai puncaknya yang terlihat pada outputnya. yakni menceriakan orang-orang di sekitarnya.

“berat mas. namun sekarang ini adalah kesempatan terbaik kita”, kata laki-laki yang juga bernama dhamma kummaro itu.

  • Facebook
  • Google
  • TwitThis

orang-orang sebatang kara dalam hidupnya

May 6th, 2009, posted in buku

sendiri sama dengan kesepian. dan memang begitu apa yang aku alamai selama ini. sejak kecil aku telah ditinggal pergi kedua orang tuaku. lalu aku berumah dengan nenek. sebentar saja. dia pun meninggal. tetangga sebelahku, kesendirian mereka lebih tragis.

anak-laki-laki itu ibunya meninggal sewaktu melahirkan. tak ada yang peduli, karena perkawinan mereka ditentang keluarga. untuk mengurus bayinya, ayah si anak itu melakukan keputusan dahsyat:memutuskan menjadi perempuan. namun tragis, ia di bunuh oleh laki-laki yang tergila-gila padanya.

begitulah banana yoshimoto, menceritakan pertemuan kedua orang itu dalam novelnya: kitchen. mikage dan yuichi, orang-orang yang kini sendirian itu merasa senasib. dan memutuskan tinggal serumah. apa yang kalian pikirkan laki-laki dan perempuan yang tinggal serumah?

novel ini memenangi penghargaan sastra izumi kyoka tahun 1988. sebagai pengarang muda, banana rupanya mulai meninggalkan kebisaan para penulis jepang yang suka detail cenderung berlarat-larat. namun semangat untuk menceritakan kegetiran dengan lucu masih sangat terasa.

seperti ketika erico, ayah yang kemudian menjadi ibu yuichi menulis surat kepada anaknya. “seandainya orang-orang tertarik kepadaku, meski tak tulus, kuanggap hal itu sebagai harga suatu kecantikan. andai aku terbunuh, anggap saja itu kecelakaan.” ( hal 69)

aku menyelesaikan buku bercover panci merah (versi indonesia) itu dalam tiga sesi.

judul: kitchen
penulis: banana yoshimoto
penerbit: kpg
jumlah halaman: 204
harga: lupa

  • Facebook
  • Google
  • TwitThis

pernahkah menghitung berapa suapan makan siangmu?

May 5th, 2009, posted in daily

42-18055023

  • Facebook
  • Google
  • TwitThis

panggil saya eyang mardini

May 2nd, 2009, posted in daily

tiap jumat dini hari aku punya ritual, kencing di bundaran hotel indonesia. tepatnya di toilet pos polisi yang letaknya dekat dengan layar sctv (dulu). tempat itulah satu-satunya si penyelamat, ketika teman-teman komunitas bhi menunaikan hajat.

malam itu tepat pukul 2:30. di pos polisi itu agak riuh. beberapa orang meriung mengerubuti warung indomie yang ada di depan bangunan. salah satu dari mereka adalah sesosok perempuan tua. usianya 71. kurus, berambut ikal pendek, 99% warnanya putih. nampak ringkih, namun ternyata ringas.

aku dan teman antri memesan. kami duduk di bangku kayu yang agak membelakangi sungai yang airnya hitam. kedatangan kami rupanya menarik perhatian perempuan tua berkulit kuning bersih itu. malam-malam begini, apakah kau tak akan di cari-cari nek?

“saya tinggal di jakarta timur. aku kok dicari, kalau yang hilang itu sendok atau piring mereka baru heboh nyari-nyari. entah siapa yang dimaksud mereka. tak tahan dengan kantuk yang mendera, aku tak memperhatikan, namun tak juga mengabaikan. karena sikapku ini, temanku nyelutuk yang intinya mencela. kebiasaan kami yang tak bermakna apa-apa.

namun nenek bercelana panjang biru itu langsung menyahut. dia tak rela, aku yang laki-laki dipermalukan di depan umum oleh perempuan temanku. dia menyampaikannya dengan bahasa inggris. temanku mencoba ngeyel (dengan bahasa inggris juga). nenek itu makin bersemangat, ia langsung menyilangkan sebelah kakinya yang bersepatu transparan.

dengan nada suara lebih tinggi ia berbicara. kali ini memakai bahasa belanda. yang kudengar samar-samar hanyalah etiket, etiket. selebihnya entah. temanku kena marah. seperti orang sepuh lainnya, perempuan berkacamata itu menceritakan masa jayanya yang lalu. tangannya terus bergerak-gerak untuk menekankan pentingnya untuk terus belajar.

aku tak berekspresi apa-apa. dia tetap melanjutkan ceritanya. andai punya uang cukup, dia masih ingin terus belajar. meski saat ini ia telah pintar banyak bahasa daerah maupun asing lainnya. kami berkenalan. perkiraanya, kami sebuah pasangan. mengetahui kami dari komunitas, dia melanjutkan nasehatnya. tiap kelompok, geng, komunitas atau apapun namanya harus punya bahasa sandi.

dia menawarkan kami belajar stenografi, morse dan semphore. temanku menolaknya, tak punya waktu alasannya. tak surut semangatnya, perempuan renta itu mengambil buku diary. menyobek selembar kertas dan menuliskan angka-angka tertentu. dia mengajarkan bagaimana cara menggunakan kode-kode tersebut secara cepat.

nyaris dua jam, waktu yang kami habiskan untuk melumat semangkok indomie dan segelas air jeruk hangat. begitu kenyang kami berpamitan. tak lupa bersalaman. tanpa diminta, nenek itu menyebutkan namanya. “panggil aku eyang mardini saja”.

(* jumat malam berikutnya, aku lihat dia duduk menyandarkan punggungnya. matanya terpejam. sendirian.

  • Facebook
  • Google
  • TwitThis