cerita among (2)
“sebaiknya mulai sekarang kita harus melihat sekitar kita lebih serius”. begitu among memulai ceritanya lagi. sebelumnya ia pernah menyampaikan cerita menarik yang belum pernah aku dengar. aku makin takzim mendengarnya.
kau lihat di setiap angkot, minimal empat sampai lima kali ada peminta-minta. mayoritas orang-orang cuek melihat mereka bermelas-melas. mereka sehat, namun lebih memilih profesi yang tak bermartabat. sebaiknya kita merasa lebih beruntung.
selama ini kita telah terlalu sibuk dengan tujuan-tujuan imajiner kita. dan para pengemis itu datang, mereka menampar muka kita dengan caranya. jumlah mereka melimpah di kota ini. salah satu penyebabnya, individualisme dan egoisme yang maha dahsyat. beda dengan di kampung. mereka masih aware, minimal kepada tetangganya. sehingga yang lapar tak perlu turun ke jalan.
di pinggiran hutan thailand para bikhsu setiap hari melakukan pindapatha. yakni berkeliling kampung dengan kaki telanjang dan tangan membawa mangkuk untuk menerika pemberian penduduk. dan penduduk pun tak pernah merasa bosan. mereka selalu memasak lebih untuk mereka.
yang paling baik, kita memberikan bantuan ketika tak diminta. dan ini lebih sulit karena harus lebih jeli, mengamati lebih detail orang-orang yang tak secara vulgar menyodor-nyodorkan tangannya ke hadapan muka kita. untuk sampai pada tahap ini kita harus bisa lebih sensitif. cobalah sekali-sekali mencari, dan kau agak kesulitan menemukannya.
“mari kita membalikkan mindset kita menjadi begini: anggap saja kamu punya tabungan yang saldo digitnya lima belas. kau simpan di bank swiss yang tak akan kau utak-atik sama sekali. kau merasa tenang karena kau merasa memiliki. sampai waktunya kau mati, uangmu akan tetap utuh tak tersentuh.
ini agak mirip dengan ketika kita menabung seluruh gaji tiap bulan. terus, terus dan terus sampai entah berhentinya kapan. kau akan merasakan kenyamanan dan keamanan yang sama karena kau merasa memiliki. bedanya, di sini kau tak pernah berbagi.
disinilah peran pikiran. kita harus berhasil memanipulasinya menjadi keyakinan. kalau kau baca sang alkemisnya paulo coelho, disitu dia bersabda, jika kau telah meyakini sesuatu, seluruh semesta akan mendukungmu.



hhhmm..
membuka pikiran yah..??
[Reply]
betul itu. kekuatan pikiran memang penting. untuk mengarahkan pada hal yang positif. atau negatif jika mau.
[Reply]
wesss kata2 terakhir, sama seperti bila kita punya keyakinan sebi sawi maka kita bisa memindahkan gunung hehe…. benar2 harus membuka pikiran ya mas
[Reply]
hehehehe…
merubah mindset ????
merubah keyakinan tentang materialism..aja ah..
soalnya ga punya gaji…hihihihihi
[Reply]
menjadi manusia berbudaya memang lbh indah..
[Reply]
Setuju sm Komen Eyang
[Reply]
“jika kau telah meyakini sesuatu, seluruh semesta akan mendukungmu” uni suka sekali kata2 ini, btw makasi ya kak telah mengingatkan ^_^, zemangat siang
[Reply]
bener gan… saya setubuh.. eh setujuh.. eh setuju…
[Reply]
bener! setuju ama bangsari..hehehhe
[Reply]
setujuuuu!!
[Reply]
inspiratif bgt,…. thanks bang.
[Reply]
setujuuuuuuuuuuuu jg dech
[Reply]
mestakung atau semesta mendukung, saya salah satu orang yang percaya ini
[Reply]
wah mudeng saya…
[Reply]
hmmm…menggelitik pikiran saya di pagi hari ini ….suwun dab
[Reply]
take and give
dan semesta mendukung
[Reply]
kalo disimpen emang jumlahnya tetep mas, tapi kalo disedekahkan insya Allah jadi berlipat. tapi ini jangan dijadikan pamrih sih… hehehehe..
cuma ya itu, kudu pinter milih mau dikasihnya ke siapa. saya juga malah kurang ikhlas ngasih ke yang menyodor2kan tanggan, entah kenapa…
[Reply]
meski nggak sepenuhnya pas, tapi betapa sulit ngelmu itu diterapkan mas…
[Reply]
ngelmu sing bener tapi
[Reply]
tangan diatas memang lebih baik daripada tangan dibawah…
[Reply]
mari berbagi sebanyak2nya
jangan cuma sekedar prihatin
[Reply]