dua ibu

Posted by fanabis on Jul 1, 2009 in buku |

dua ibu

di kota yang sibuk ini, bekerja menjadi prioritas utama mayoritas penghuninya. apalagi kaum urbannya. tanpa bekerja, tak akan eksis. akrab dengan kafe, mal, lounge, facebook, twitter, macet, deadline, selingkuh, tagihan kartu kredit, bonus, target target. menikah, mengurus anak dan tiba-tiba ada telepon dari rumah, ibu meninggal.

serasa begitulah pengalamanku membaca novel dua ibu. arswendo atmowiloto mengingatkan kepada kita semua mengenai perjuangan seorang ibu. meski ibu dalam tokoh novel tersebut bukan ibu biologis. namun perannya melebihi seorang ibu yang sesungguhnya.  beliau menyayangi semua anak-anak yang dititipkannya.

beliau sanggup merelakan kebahagiaannya sendiri, demi anak orang lain dengan perasaan bahagia. dengan peninggalan suaminya yang tak seberapa, ia membesarkan kesembilan anaknya. pada saat mamid khitan, ia harus menjual kursi, meja, sepeda dan beberapa pakaian untuk biaya.

sementara solemah yang sudah menikah dan tinggal di surabaya hanya bisa bercerita lewat surat mengenai kesibukannya. dan hal-hal yang menjengkelkan sebagai ibu dan isteri seorang kopral. begitu juga ratsih. dia hanya mengabarkan keadaanya yang baik-baik saja. tak ada rasa sesal atau kecewa dengan perilaku anak-anaknya.

satu-satu anak-anaknya menikah dan pergi. begitu juga barang-barang berhaga di rumah itu tak bersisa. puncaknya, ia harus menjual rumahnya untuk melunasi hutang-hutangnya. ia memilih pindah ke rumah kecil dekat kuburan. tragisnya, anak-anaknya yang masih kecil, prihatin dan priyadi diambil orang tuanya yang kini sudah kaya. beliau merelakannya dengan ikhlas.

sampai akhir hidupnya, ia tak pernah meminta balasan. bagai sang surya menyinari dunia. klise memang namun itulah fakta seada-adanya. tak pernah menghitung-hitung apalagi mengungkit-ungkit apa yang telah beliau lakukan kepada semua anaknya.

sampai diakhir suratnya, beliau menulis, “untuk anak-cucu semua di jakarta. hidup itu adakalanya gelap, adakalanya terang. jangan terlalu sedih kalau lagi gelap, jangan terlalu gembira kalau lagi terang. ibu tak bisa apa-apa, berjalan pun sekarang tak bisa. mintalah selalu kepada Tuhan. baginya selalu ada jalan bagi kita yang meminta…..

novel yang memenangi fiksi terbaik tahun 1981 ini mampu mengharu-biru siapapun yang membacanya. arswendo menggambarkan kasih sayang dan ketulusan ibu sangat sempurna.


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
  • Facebook
  • Google
  • TwitThis

Tags: ,

17 Comments

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags:' <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


Copyright © 2000-2012 fanabis All rights reserved.
Desk Mess Mirrored v1.5.1 theme from BuyNowShop.com.