
hanya ada satu cara untuk menggambarkan rumahku seperti apa. kau bisa menyebutkan, rumahku cukup terpencil. berada tepat di kaki gunung, tempat bersemayam dewa-dewa. rumah itu berhalaman padang, dipagari pepohonan tua. tampak dari jauh seperti lukisan. pintu gerbangnya yang jaraknya sekira seribu langkah dari rumah tumbuh sepohon beringin yang sulur-sulurnya mirip pohon di film tarzan.
di bawah pohon itulah, tempat menghabiskan hariku dengan melukis. kadang juga berbincang dengan rusa-rusa yang mampir untuk sekedar mencicipi salihara, rumput berbunga kecil warna ungu dan putih. atau melihat kepak ekor merak yang berdansa untuk menarik betinanya. namun waktu yang paling aku sukai adalah senja. aku akan pergi ke pinggir kali. duduk di salah satu batu dan menyelamkan kaki.
saat itulah seolah tanpa sadar, tanganku otomatis menuliskan beris-baris kalimat yang susah didefinisikan orang. entah apa itu puisi, elegi, ode, pantun atau parikan. karena aku enggan menganggu kedamaian istilah-istilah itu, aku menghanyutkan semua coretan yang telah selesai itu ke arus air yang jernihnya melebihi kristal.
begitulah catatan harianku yang kutulis dua dekade lalu.
rupanya aku harus menggampar keras-keras mukaku, untuk menyadarkan keliaran imajinasiku. bagaimana mungkin mewujudkan keinginan itu ketika aku tinggal di jakarta sebagai karyawan yang kemampuannya pasaran? baiklah, aku harus menyesuaikan diri kalau tak mau mati berdiri. harapan memang harus tetap disemaikan. namun kadarnya harus diturunkan.
berjelajahlah aku ke propertykita, mengubek-ubek isi yang ada di dalamnya. mencari tahu tentang harga, lokasi dan gaya arsitektur mana yang sekira agak seselera dengan jumlah saldo simpananku. paling tidak kompleks perumahan itu berbentuk cluster, agar akses masuk ke perumahan hanya bisa dari satu pintu yang dijaga pak satpam.
minimalis saja gaya arsitekturnya. namun bukan berarti hanya menghabiskan tiga sak semen untuk membuat pondasinya. juga tidak berdiri diatas rawa-rawa yang diurug seadanya. sehingga waktu serah terima kunci, rumah telah miring ke kiri. dan ketika renovasi, tak ada preman-preman kampung yang membuntuti.
tak perlu ada pintu gerbang mewah, yang penting fasilitasnya nyaman. ada kolam renang, tempat bersembahyang, taman-taman yang lapang dan akses internet broadband tanpa batas. sehingga pemilihan ketua rt tak harus dilakukan secara konvensional. cukup membuat pengumuman di blog dan seluruh penghuni tinggal memilih kandidat yang bersedia.
untuk menyamankan pekerjaan pembantu, ada toko online yang menyediakan seluruh kebutuhan keluarga. seluruh pengguni tinggal klak-klik memesan barang dan petugas toko akan mengantarkannya sampai ke rumah paling lama sepuluh menitan. tak perlu mempunyai uang tunai, tagihan dikirim setiap akhir bulan.
sayang sampai sekarang aku tak menemukan agent property yang menjual perumahan berdasarkan hobi pembeli. tentu akan menyenangkan jika sebuah cluster perumahan penghuninya semuanya seniman atau semuanya pedagang. dengan begitu, rumah tak akan pernah berubah menjadi neraka.
ketika kau hidup bertetangga, kau harus mentolerir teriakan-teriakan kesetanan penghuni samping kiri ketika kesebelasan jagoannya memenangi kejuaraan. atau kau harus terbiasa dengan salak anjing tiap malam. yang cukup menjengkelkan, ternyata rumah dengan diam-diam mendatangkan kewajiban-kewajiban. kau harus tersenyum dan mengucap salam pada setiap perjumpaan. dan seabrek kegiatan artifisial lainnya yang andai tak ada pun, semua akan baik-baik saja.
konon, rumah bukanlah tempat di mana kamu tinggal namun tempat di mana mereka bisa memahamimu. maka kuputuskan saja untuk mempunyai rumah di setiap kota, di setiap pulau dan di setiap negeri. selain terbebas dari semua kegiatan semu itu, yang paling penting aku terbebas dari rasa kerasan atau tidak kerasan. aku akan melakukan pengembaraan dari satu rumah ke rumah lain. tak ada kemapanan, semuanya kesementaraan.
aku akan terus menjadi tamu atau setidaknya mirip turis. menginap sehari atau seminggu tanpa kewajiban yang mengikat, tanpa rutinitas yang membelenggu. dan itu membuat hidup lebih menggairahkan dan bersemangat. aku akan terus berangkat dan pergi. bukankah hidup adalah perjalanan yang tak pernah mengenal kata pulang?
sayang sekali aku bukan benjamin button, yang mengalami siklus kehidupan berlawanan dengan kehendak alam. sehingga mau tak mau aku tetap memaknai rumah sebagai tempat yang ingin kutinggalkan sewaktu muda dan sebagai tempat yang ingin aku kembali ketika tua.
(* image diambil dari: http://www.corbis.com





