nasihat financial planner, perlukah?
menurut temanku, masa depanku ajrut-ajrutan, gelap tak jelas. maka dia memaksaku mengikuti obrolan dari financial planner. baiklah, aku pun bergegas dengan puluhan teman lainnya. sang financial planer bicara sangat jelas dan mantap. semua masuk akal sih.
masa kerja kita maksimal sampai usia 55 tahun. dan setelah masa menganggur sampai ajal menjemput itu kita perlu biaya yang lebih besar. kemungkinan frekuensi sakit akan meningkat dua kali bahkan lebih dibanding sekarang. untuk itu kita harus mempersiapkan dari sekarang. sehingga kelak kita bisa menikmati masa tua dengan bahagia.
hanya itu yang sampai ke telingaku. hanya perlu 15 menit pertama aku sanggup mendengarkan dan memilih keluar ruangan. menurutku financial planner itu terlalu berani menghitung-hitung kehidupannya sebegitu eksak.
Sebegitu termindsetnya, temanku ia begitu mengkhawatirkanku karena kehidupan keseharianku yang nyaris tak terplanning. memang aku tak menabung. buat apa? inilah sampai sekarang yang aku tak paham. mayoritas orang menabung terus menerus sampai tak tahu kapan harus memakainya.
lebih baik aku jalan-jalan sesukaku. melakukan apa yang ingin aku lakukan. memaksimalkan apa yang bisa dijangkau meski dengan keterbatasan. nongkrong di warung kopi dan hal-hal lain yang menurutnya hanya menghabiskan uang.
temanku rupanya sangat peduli dengan masa depanku. ia tak menyerah. teman yang sukses itu terus mengajariku bagaimana mempersiapkan keadaan yang tak terduga di masa tua. selain agar aku menabung, ia menasehatiku untuk mencari pekerjaan sampingan sehingga tabunganku akan lebih banyak.
dengan uang yang cukup banyak aku akan bisa membuka usaha bakso di kaki lima. dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam setahun ia yakin bisa membuka cabang. dengan banyak cabang tentu akan lebih banyak pemasukan. tahun kelima duganya aku akan menjadi raja baso kaki lima. dan bukan tak mungkin selanjutnya aku menjadi orang terkaya seindonesia.
“setelah itu apa lagi yang harus kulakukan”?, tanyaku. dia menjawab, “kau bisa istirahat, jalan-jalan dan menikmati hidup katanya. dan aku pun balik bertanya, menurut pendapatmu, emangnya selama ini apa yang aku lakukan?
dia hanya diam.



waaaa…ibarat film, endingnya mengejutkan, benar2 mengkampak muka pembaca
[Reply]
Hahaha. Aku selalu suka free spiritnya mas KW..
d.~
[Reply]
hehe, indah, sampe ga tau lagi uni mesti berkomentar apa
[Reply]
very nice post mas KW…
hanya berbeda pandangan mengenai bagaimana *menikmati hidup* yahh..
dan gw percaya ma KW sudah menikmati hidup sejak sekarang.. yihaa
[Reply]
Setuju mbah, menikmati hidup itu bukan ditentukan orang lain
[Reply]
kenapa harus menunggu kalau bisa menikmatinya sekarang ya, mas?
[Reply]
mas karmin bisa aja deh ..
[Reply]
dan saya pun mulai teracuni sejak setengah tahun lalu, semenjak kita nongkrong dan makan bakso bareng di PV :d
[Reply]
maklum mas kw masih lajang sih, belum punya momongan …
[Reply]
/*ngikik baca komennya ndorokakung
[Reply]
Nggak tau kenapa, saya suka paranoid kalo dengerin atau baca nasihat financial planner…kayaknya hidup dan rezeki itu selalu dibikin 2+2=4, padahal kan tidak selalu begitu…
[Reply]
hahaha. jadi teringat kisah kuno.
btw, adaptasinya dahsyat nung!
[Reply]
fanabis bangetz
[Reply]
Waaahaha… really Fanabis!
[Reply]
keren temanmu itu, bisa bertahan dan keukeuh mengajakmu ke jalannya..
[Reply]
hehe..
masa depan diatur oleh org lain..yg hidup siapa yah
[Reply]
[...] nasihat financial planner « fanabis fanabis.blogdetik.com – view page – cached menurut temanku, masa depanku ajrut-ajrutan, gelap tak jelas. maka dia memaksaku mengikuti obrolan dari financial planner. baiklah, aku pun bergegas dengan puluhan teman lainnya. sang financial planer bicara sangat jelas dan mantap. semua masuk akal sih. [...]
itu si planner kayak tahu aja bakal masih hidup atau enggak lima menit lagi hahaha
[Reply]
yeap
really2 fanabis
[Reply]
Teman sejati Bro
[Reply]
komen lagi ah, barusan dapet ilmu dari seorang financial planner yg bicara di radio, katanya, kita mesti senantiasa punya dana darurat minimal sebesar 9 kali pengeluaran bulanan. nah, lo!
[Reply]
ngomong mah gampang yo Mas…
[Reply]
financial planner kdg mndahului kehendak ‘tuhan’,
dia bkin ramalan sndiri dgn yakinya
kalau se2org tdk melakukan apa yg mereka katakan
mk hal buruk pasti terjadi dgn keuangannya…
sbnarnya kondisi keuangan mereka sendiri gimana sih??
[Reply]
kurang setuju engan planner, padahal aku ingin ingin menjadi planner
[Reply]
Duit datang dan pergi. Kalo abis? Ya cari lagi… :p *dua jempol utk posting ini*
[Reply]
huaahahaha..suka sekali postingan ini!
[Reply]
hidup yang singkat mari kita rayakan \:D/
[Reply]
Hidup yang indah mas
Semoga bisa langgeng melanjutkkan kehidupan lajang mu .. he he he …
[Reply]
xixixixi… lucu bagian akhirnya.
kalo bisa sekarang, kenapa nunggu nanti? mumpung masih bisa :p
[Reply]
Wah, financial planner yang ini perlu belajar Psikologi lagi deh biar klo menghadapi klien spt ini bisa bersilat lidah wkwkwkw…… Posting yg bagus, Salam kenal…..
[Reply]
financial planner yang sederhana dimulai dari kebiasaan mencatat pemasukan dan pengeluaran saja
BIsa pakai program komputer yang berbayar seperti Quicken, atau yang gratis juga ada.
[Reply]