gesang, buku biografinya diterbitkan ulang

Posted by fanabis on Jul 7, 2010 in buku |

membaca kehidupan gesang, kita seperti menelusuri ceruk dunia yang belum pernah dijamah orang. di tengah keriuhan mayoritas yang menilai kebahagiaan dengan uang, gesang mempunyai definisi lain. ia sudah cukup bahagia ketika ia bisa melihat capung-capung yang beterbangan di pinggir kali atau bisa rengeng-rengeng di tempat yang sepi.

karena itu ia menolak meneruskan usaha batik ayahnya. laki-laki yang bernama lahir soetadi ini lebih memilih menyanyi dan mencipta lagu. meski masa depannya tidak jelas ia yakin Tuhan sudah merencanakan semuanya dengan sebaik-baiknya. dan keyakinannya terbukti, sekarang ia dikenal sebagai maestro keroncong.

namun untuk sampai pada pencapaian tersebut, ia harus menjalani hidup yang sungguh serius dan tak main-main. hidup gesang bak air keruh yang mengalir tanpa gejolak. muram, namun ia menjalaninya dengan kuat.

usia lima tahun ibunya meninggal. perkawinan yang telah dibinanya selama 22 tahun kandas. walinah, isterinya yang matre menguras semua harta yang dimiliknya. termasuk rumah warisan orang tuanya yang sekaligus dijadikan toko di tirtonadi. dalam keadaan luntang-lantung itu ia dipertemukan dengan ngainah, mantan pembantunya.

ngainah telah menganggap gesang adalah keluarganya. maka di rumah sempit 3 x 6 meternya di daerah munggung, solo gesang menumpang tinggal termasuk makan. hubungan keduanya unik. mereka saling membutuhkan, namun tidak terikat dalam perkawinan. mereka telah saling menganggap sebagai saudara

seluruh lagu-lagunya adalah catatan adegan-adegan kehidupannya. lagu-lagunya adalah ungkapan suara hatinya terdalam. ketika mencipta tak ada niatan untuk memperoleh imbalan, apalagi materi. “jika aku mengharap laguku populer dan disenangi orang, berarti dalam proses penciptaanya aku sudah memasukkan unsur kepentingan baik moril maupun materiil. itu pada akhirnya akan mempengaruhi orisinalitas laguku(hal 131).

contohnya lagu bengawan solo. lagu itu adalah potret telanjang keadaan sungai terpanjang di jawa kala itu. meski lagu itu sekarang populer di banyak negara, dalam penciptaanya gesang meragukan keindahannya. ia sempat meminta pendapat temannya apakah lagu tersebut bagus atau tidak.

gesang yang mengaku penakut ini bukanlah seorang yang ambisius. gesang adalah sosok seniman yang tak silau dengan popularitas. menurutnya popularitas itu adalah racun yang sangat membahayakan. aku mencipta hanya karena ingin mencipta. menyalurkan segala rasa yang berkecamuk di hati kedalam musik (hal 131).

sehingga ketika ia terlunta-lunta ia tak pernah meratapinya. lapar dapat menjadi perasaan yang memukau, bisa mempertebal ketahanan tubuh dan membuat lebih peka. lapar adalah keindahan yang sering menggiringku ke sebuah inspirasi (hal 246).

di hari tuanya ia menempati rumah pemberian gubernur jawa tengah (waktu itu soepardjo rustam) di daerah palur, karang anyar. tentang kematian begini katanya, mengapa harus takut? hidupku toh tidak terlampau indah sehingga tak perlu menyanyangkannya. :(

buku biografi ini pernah diterbitkan pada tahun 1998 oleh balai pustaka.

judul buku : gesang: mengalir meluap sampai jauh
penulis : isharry agusjaya moenzir
jumlah hal: 294
penerbit : gramedia


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
  • Facebook
  • Google
  • TwitThis

Tags:

20 Comments

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags:' <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


Copyright © 2000-2012 fanabis All rights reserved.
Desk Mess Mirrored v1.5.1 theme from BuyNowShop.com.