socmed marketing: buat komunitas dulu, baru jualan

24 Jun 2011

saat ini mayoritas ceo perusahaan tidak memahami pentingnya social media (khususnya twitter). para pemilik brand masih memperlakukan social media sebagai bilboard atau televisi, untuk menspamm, memblast dan berjualan. mereka masih menerapkan model marketing 1.0 yang vertikal.

dengan perubahan teknologi sekarang ini perilaku konsumen pun berubah, otomatis cara berjualannya pun menyesuaiakan. marketing sekarang menjadi horizontal, marketer as connector.

namun para ceo rupanya masih kurang sigap menghadapi perubahan yang sangat revolusioner ini. mereka enggan masuk ke social media karena takut nanti produknya di serang konsumen, atau strategi yang dipakainya akan menguntungkan kompetitor.

begitulah cerita @yuswohady di akademi berbagi, Kamis (23/06) di kantor amway indonesia wisma bni 46 jl sudirman jakarta pusat kemarin. menurut mas siwo, panggilan akrabnya, yang diperlukan saat ini adalah mengubah mindset para ceo, bahwa ke depan masa depan marketing ada di komunitas.

penulis yang sedang menyelesaikan buku terbarunya twit is love ini, berhasil merumuskan bahwa twitter marketing is love marketing. selama dua jam laki-laki asal purwodadi ini menjelaskan maksud rumusan tersebut dengan “the 8 sila of twitter marketing.

menurutnya sebuah brand dalam memanfaatkan twitter harus berpegang pada 8 hal: giving, conversation, listening, sharing, caring, empathy, trust dan friendsip.

setelah memahami folosofinya, langkah selanjutnya adalah memahami strategi dan taktik. masih menurut yuswohady, brand harus mendefinisikan target, mengidentifikasi kepentingan yang sama lalu membangun konversasi, melakukan aktivasi (bisa program offline) dan terakhir berkolaborasi.

pada kesempatan itu yuswohady juga memberikan contoh-contoh marketing yang 2.0 banget, tidak hard selling. misalnya sebuah brand yang berjualan cereal untuk anak, di webnya tak ada satu hal pun tentang makanan tersebut. tetapi isinya adalah informasi yang diperlukan oleh ibu yang (diperkirakan) mempunyai anak kecil. misalnya bagaimana mengajari anak tentang matematika, mengerjakan pr dan seterusnya.

dan yang terakhir adalah taktik. bedanya startegi dan taktik? taktik bisa berubah setiap saat, strategi bisa diterapkan dalam jangka waktu tertentu.

caranya dengan memanfaatkan social media platform yang ada. misalnya blog, facebook, twitter, youtube. kita jadikan tools tersebut sebagai jalan untuk menuju ke “rumah” atau landing page nya. makin banyak tools yang kita pakai kemungkinan besar akan makin banyak orang yang mengunjungi web atau rumah kita.

kesimpulannya h + c + p = r (filosopi + pendekatan komunitas + social media platform = hasil). satu lagi yang tak boleh dilupakan adalah the essence of marketing is creativity


TAGS social media marketing yuswohady


-

Author

Follow Me