@rsuhe: para ceo harus melek social media

21 Jul 2011

laki-laki ini lebih suka belanja daripada membaca buku. menurutnya belajar dengan cara berbincang dengan orang-orang baru lebih menyenangkan. sebagai head of marketing perusahan multi nasional, ricky suhendar setiap hari harus mengurus semua ha yang berhubungan dengan aktivitas marketing, termasuk di social media.

menurut @rsuhe, id twitternya indonesia bisa dikatakan paling advance at least di asia dalam pemakaian social media untuk “kampanye” hal ini bisa dilihat dari user facebook dan twitter. dan socmed menjadi trend baru buat brand untuk melakukan pemasaran produknya karena dinilai efektif, cepat dan tentunya dari sisi biaya relatif tidak mahal.

namun ia menemukan kendala ketika ia melakukan kampanye produk di social media. ” kendala itu sebenarnya pasti ada di channel apapun dan itu tidaklah berpengaruh besar, paling banyak hanya bersifat teknis aja, “katanya via instant messanger.

laki-laki yang selalu juara waktu sekolah ini menambahkan, yang paling penting kita harus siap dengan interaksi di socmed ini. namanya juga sosial media, jadi kita harus berinteraksi, dan interaksi ini bisa yang positive maupun negative.

ia mengaku, banyak temen-temannya memegang brand tidak melakukan kampanye di socmed. bukan karena tidak mau namun tidak mengerti dan tidak ada katalisator untuk menggerakan itu. kedua karena sulitnya meyakinkan managemen yang masih berpikiran konvensional.

“marketing itu harus dinamis, dan channel untuk berkomunikasi terus mengalami perubahan”

ia pun punya petuah kepada para ceo yang masih meragukan keefisienan berkampanye di social media. begini katanya, para ceo harus melek dan membuka mata, hey….semuanya udah berubah, if you stick on your conventional way, jangan harap target perusahaan akan tercapai (paling tidak ini berlaku untuk FMCG ya )

saat ini banyak perusahaan yang berkampanye di social media memakai buzzer. ada yang mengatakan era buzzer sudah mati. karena para konsumen berbayar ini belum tentu orang yang benar-benar loyal kepada brand yang dikampanyekan, jika mereka memilih buzzer yang salah.

menurut laki-laki yang masa bocahnya takut diperiksa giginya ini, buzzer ( opinion leader ) tetap diperlukan. mereka bisa membantu menyebarkan informasi yang di kampanyekan brand. “kalau kita merasa confidence dengan kampanye kita yang bagus, dengan sendirinya tersebar dan dibicarakan”.

dalam kampanye di social media, menurut @rsuhe yang pernah jadi penyiar radio ini, yang terpenting brand itu harus punya objective, terkadang banyak yang melakukan campaign tapi asal bermain aja di fb dan twitter tidak terkonsep dengan matang

perbincangan terhenti, dia harus miting.


TAGS social media ricky suhendar @rsuhe


-

Author

Follow Me