buka bersama dengan penderita kusta

13 Aug 2012

7c71200220e665657aa69695f61347a8_sitanala_games-ok

cf93106a0a68368d899d2a6383cca95a_sitanala_packing-ok

aku beruntung, seorang teman, @ta2surya mengajakku buka puasa bersama. namun kali ini buka bersamanya sangat istimewa. bukan dengan anak-anak yatim di seputaran jakarta. namun sejak dulu temanku bersama teman-temannya itu selalu memilih tempat-tempat kegiatan yang jauh dari jangkauan orang jakarta.

minggu kemarin, mereka memilih buka bersama ke rumah sakit sitanala di tangerang. rs sitanala adalah rumah sakit khusus untuk para pasien penderita penyakit kusta, lepra atau sekarang disebut hansen agar tidak identik dengan stigma negatif yang telah berkembang di masyarakat selama ini.

pilihan yang menurutku sangat tepat. selain jarang ada yang melakukan, pilihan berbuka puasa dengan para penderita penyakit kusta itu memberikan pengalaman baru buat mereka.

komunitas yang kemudian aku tahu bernama katalis (kita peduli dan cinta sesama) itu secara mandiri mengumpulkan dana untuk membiayai buka bersama, memberikan hadiah dari game-game yang dibuat dan sebuah bingkisan yang berisi kebutuhan mandi: sabun sampo, pasta gigi, sikat gigi dan tisu. ada sekitar 170 pasien di rumah sakit yang lokasinya di desa karang sari, sewan neglasari, tangerang banten ini.

komunitas yang baru saja aku kenal ini cukup keren. mereka melakukan kegiatan ini secara mandiri. mereka membahas via email (bukan milis) dan nyaris tak ada diskusi. hebatnya lagi, mereka tak peduli dengan publikasi. keren kan? katalis benar-benar hanya ingin membuat ceria di rumah sakit sitanala tersebut.

komunitas ini cukup unik, mereka jarang komunikasi namun punya ikatan yang sangat kuat. mereka bertemu setahun sekali di email ketika akan mengadakan kegiatan. seperti yang dilakukan kemarin, mereka membahasnya di email, tanpa miting dan diskusi, dan tak ada juga perdebatan-perdebatan yang menguras energi.

pembagian tugas belanja barang-barang toiletris, konsumsi dan lainnya juga dibahas sebatas di milis saja. mereka saling percaya. dan hasilnya pun seperti yang diharapkan.

menjelang jam 4 sore, seluruh pasien mulai berkumpul di mushala. satu-satu mereka mulai datang. ada beberapa yang memakai kursi roda. ada yang jalannya terseok-seok karena memakai kaki palsu, ada juga bocah abege yang seluruh badannya hitam legam (mungkin karena treatmen agar sembuh) namun satu kesamaan diantara mereka: jari-jari tangan atau kakinya diperban, tampak rembesan revanol (cairan warna kuning) di situ.

dari mereka tak satupun yang didampingi oleh keluarga. para pasien rumah sakit sitanala ini bahkan setelah sembuhpun mayoritas tak akan pulang ke rumahnya, karena keluarganya menolak kehadiran mereka.

beberapa orang mukanya agak mirip, dengan hidung yang seperti ditarik kedalam. mereka yang datang ke mushala mayoritas memakai baju kumuh. di dalam mushala selebar 6×6 itu kami mengajak mereka main “game”, menggambar berantai dan bermain sulap yang ditutup dengan kultum oleh pak ustadz.

selesai makan, setiap orang memperoleh bingkisan. mereka senang, suasana hari ini bagi mereka beda. mereka berterimakasih. kepadaku, temanku shandy dan eugene didoakan agar cepat selesai sekolahnya. rencananya dalam enam bulan kedepan, kami akan melakukan kegiatan seperti ini lagi. minimal bisa membelikan mereka sabun, shampoo, pasta gigi dan barang untuk keperluan toiletris, karena ini adalah kebutuhan penting mereka, rumah sakit tidak menyediakannya.


TAGS sitanala


-

Author

Follow Me