lebaran 2012 (2): perempuan yang menunggu di teras

25 Aug 2012

MA11049A

tahun ini libur lebaranku cukup singkat, namun ternyata waktu yang hanya beberapa hari itu cukup memberi pelajaran yang mengkampak muka. entah kenapa kesadaran itu baru muncul sekarang. mungkin karena faktor usia?

beberapa pengalaman menarik itu adalah ketika bertemu dengan seorang nenek. nenek renta yang sudah tidak kuat mengurus semua kebutuhannya sendiri. nenek yang telah jompo, matanya rabun, kakinya suda tidak kuat menyangga tubuhnya. namun perempuan itu tidak (belum) pikun.

usianya sekitar 90 th. ia tinggal sendirian saja di rumah yang cukup besar. karena sudah tidak bisa memasak, salah satu saudaranya tiap hari yang menyediakan makanan untuknya. kadang saudaranya itu memasak di rumahnya, kadang ia cukup membelikannya ke warung.

tiap hari rumahnya ramai, beberapa anak mendatanginya dan bermain di lingkungan rumah. anak-anak suka karena nenek itu baik, membiarkan anak-anak “mengacak-acak” rumahnya. malah tak segan nenek itu memberikan makanan atau memberikan uang agar anak-anak itu bisa jajan.

namun menjelang sore tiba, ketika anak-anak itu pulang, perempuan berambut putih itu mulai duduk di kursi yang berada di teras, sendirian tanpa teman. oh ya suaminya telah berpulang beberapa tahun yang lalu. sementara anak-anaknya tak ada yang tinggal di rumah. semuanya lebih memilih mengejar karir dan masa depannya.

dari anak-anaknyalah semua kebutuhannya dicukupi. tiap bulan perempuan itu mendapat kiriman yang ditransfer melalui rekening bank milik saudaranya yang mengurus kesehariannya. tak ada yang kurang untuk urusan uang, semuanya cukup meskipun tak bisa dibilang berlebihan.

lebaran tahun ini kebetulan lima anaknya tak ada yang pulang. semua sibuk menyelesaikan masalahnya masing-masing. yang satu sedang mempersiapkan pesta perkawinan anaknya, yang lain tidak memperoleh cuti, karena load pekerjaan yang tinggi, yang lain entahlah, aku tak menanyakannya. tak ingin memperpanjang bahasan yang mungkin hanya akan menambahnya merasa kesepian.

namun perempuan itu tak pernah secara eksplisit menginginkan anak-anaknya pulang setahun sekali di hari lebaran. perempuan itu berbesar hati dengan mengatakan bahwa anak-anaknya yang telah berkeluarga itu mempunyai agenda sendiri untuk keluarganya. dan ia tampak memahami jika mereka tak pulang. apalagi berita-berita di televisi sungguh sangat menyeramkan.

menurut penuturan salah satu tetangganya, kebiasaan perempuan duduk di teras menjelang petang ini sudah cukup lama. tak ada yang ia lakukan selain duduk diam. namun matanya menatap kedepan, entah sedang memikirkan anak-anaknya atau melamun, mengenang masa kejayaannya.

perempuan itu terus menunggu di teras sampai malam. aku yang kebetulan melihat menghampiri dan bertanya, “mbah kenapa tidak masuk ke dalam, di luar dingin”. perempuan itu mengatakan bahwa ia sedang menunggu. ia berharap saudaranya yang mengurus kebutuhan sehari-harinya datang dan menemaninya.

#kemudianteringatnasehatibuyangselalumenyuruhkumenikahagarkelakpadamasatuaadayangmengurusnya


TAGS lebaran


-

Author

Follow Me