lebaran 2012 (2): perempuan yang menunggu di teras


Written on 25 August 2012 – 06:57 | by fanabis

MA11049A

tahun ini libur lebaranku cukup singkat, namun ternyata waktu yang hanya beberapa hari itu cukup memberi pelajaran yang mengkampak muka. entah kenapa kesadaran itu baru muncul sekarang. mungkin karena faktor usia?

beberapa pengalaman menarik itu adalah ketika bertemu dengan seorang nenek. nenek renta yang sudah tidak kuat mengurus semua kebutuhannya sendiri. nenek yang telah jompo, matanya rabun, kakinya suda tidak kuat menyangga tubuhnya. namun perempuan itu tidak (belum) pikun.

usianya sekitar 90 th. ia tinggal sendirian saja di rumah yang cukup besar. karena sudah tidak bisa memasak, salah satu saudaranya tiap hari yang menyediakan makanan untuknya. kadang saudaranya itu memasak di rumahnya, kadang ia cukup membelikannya ke warung.

tiap hari rumahnya ramai, beberapa anak mendatanginya dan bermain di lingkungan rumah. anak-anak suka karena nenek itu baik, membiarkan anak-anak “mengacak-acak” rumahnya. malah tak segan nenek itu memberikan makanan atau memberikan uang agar anak-anak itu bisa jajan.

namun menjelang sore tiba, ketika anak-anak itu pulang, perempuan berambut putih itu mulai duduk di kursi yang berada di teras, sendirian tanpa teman. oh ya suaminya telah berpulang beberapa tahun yang lalu. sementara anak-anaknya tak ada yang tinggal di rumah. semuanya lebih memilih mengejar karir dan masa depannya.

dari anak-anaknyalah semua kebutuhannya dicukupi. tiap bulan perempuan itu mendapat kiriman yang ditransfer melalui rekening bank milik saudaranya yang mengurus kesehariannya. tak ada yang kurang untuk urusan uang, semuanya cukup meskipun tak bisa dibilang berlebihan.

lebaran tahun ini kebetulan lima anaknya tak ada yang pulang. semua sibuk menyelesaikan masalahnya masing-masing. yang satu sedang mempersiapkan pesta perkawinan anaknya, yang lain tidak memperoleh cuti, karena load pekerjaan yang tinggi, yang lain entahlah, aku tak menanyakannya. tak ingin memperpanjang bahasan yang mungkin hanya akan menambahnya merasa kesepian.

namun perempuan itu tak pernah secara eksplisit menginginkan anak-anaknya pulang setahun sekali di hari lebaran. perempuan itu berbesar hati dengan mengatakan bahwa anak-anaknya yang telah berkeluarga itu mempunyai agenda sendiri untuk keluarganya. dan ia tampak memahami jika mereka tak pulang. apalagi berita-berita di televisi sungguh sangat menyeramkan.

menurut penuturan salah satu tetangganya, kebiasaan perempuan duduk di teras menjelang petang ini sudah cukup lama. tak ada yang ia lakukan selain duduk diam. namun matanya menatap kedepan, entah sedang memikirkan anak-anaknya atau melamun, mengenang masa kejayaannya.

perempuan itu terus menunggu di teras sampai malam. aku yang kebetulan melihat menghampiri dan bertanya, “mbah kenapa tidak masuk ke dalam, di luar dingin”. perempuan itu mengatakan bahwa ia sedang menunggu. ia berharap saudaranya yang mengurus kebutuhan sehari-harinya datang dan menemaninya.

#kemudianteringatnasehatibuyangselalumenyuruhkumenikahagarkelakpadamasatuaadayangmengurusnya


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
  • Facebook
  • Google
  • TwitThis

Tags:



  1. 5 Responses to “lebaran 2012 (2): perempuan yang menunggu di teras”

  2.   By najwafahrini on Aug 26, 2012 | Reply

    perempuan itu mengatakan bahwa ia sedang menunggu - coba bayangkan kalau ketika tua nanti kita juga mengalami hal seperti ini.

    mereka tak pernah mengharapkan segala harta yang anak-anaknya punya. mungkin perempuan tua itu hanya butuh duduk berdampingan dengan putra-putrinya, sekadar membenahi selimutnya ketika sedang tidur, menanyakan apakah ia sudah makan atau belum, sekadar membawakan makanan kecil, atau mendengarkan cerita di masa mudanya.

    yuk sempatkan untuk pulang, tak harus ketika momen lebaran. yakinlah bahwa kesuksesan dan hidup mapan yang kita dapatkan sekarang adalah berkat doa-doa tulusnya

  3.   By obat telat bulan on Aug 27, 2012 | Reply

    Minal Aidin wal Faizin

  4.   By Rahmatullah Mufti Haris on Aug 29, 2012 | Reply

    Subhanallah, tulisan yg dapat mmbuat kita mengingat trus akan orang tua kita,yang terkadang kita dekat dengan mereka saat kita butuh saja..tpi saat mereka butuh kita, kita menolaknya dengan sejuta alasan…smoga tulisan ini dapat lebih banyak menggugah teman-teman untuk lebih memperhatikan orang tua kita, terutama yang masih memiliki orang tua kita msih membutuhkan kasih sayangnya, perhatiannya, ridhonya, dan doa-doanya…

  5.   By Siti Rahmah on Sep 4, 2012 | Reply

    mengharukan dan menghentakkan kesadaran akan keberadaan orangtua kita. Boleh jadi mereka tak mengharapkan kita membahagiakannya dengan harta tapi mungkin kehadiran kita sekedar untuk bicara dan mendengarkannya sudah cukup membuat mereka tersenyum. Tulisan ini juga mengingatkan kita akan usia yang selalu bertambah dan tubuh semakin lemah,tapi bersiap dengan kepikunan yang menyertai. Menyiapkan diri dan selalu mengasah otak agar tidak pikun dengan selalu belajar,menambah pengalaman dan mengambil hikmah disetiap peristiwa yang kita lewati. Semoga kita menjadi orang yang bermanfaat dimasa tua ,meski hanya mempersilakan anak-anak kecil mengacak-acak rumah kita, mungkin saat muda kita punya energi untuk memarahi mereka ( yang sebenarnya energi yang terbuang sia-sia).

  6.   By parfum on May 28, 2013 | Reply

    semoga di lebaran tahun ini menjadi yang lebih baik.

Post a Comment