era komunitas sudah berakhir?

15 Oct 2013

563f0dc69365acc291bf97b520b254de_socmedfest1di era yang serba instan dan cepat ini, semua hal gampang basi, termasuk jargon, tagline atau kutipan yang serind dilontarkan orang. dulu ada yang bilang, masa depan media ada pada blog, dengan paparan alasan yang masuk akal.

belum lama terdengar, masa depan brand ada di komunitas. namun sayup-sayup terdengar suara dari social media festival yang dilaksanakan 12-13 oktober di fx sudirman, event untuk yang ketiga kalinya ini adalah event yang terakhir.

padahal pada acara itu, hadir ratusan komunitas. mulai dari komunitas desa sejahtera yang berusaha mengkampanyekan untuk mengkonsumsi pangan dalam negeri, komunitas sedulurnesia, komunitas fotografi yang juga sering melakukan aktivitas sosial, infokost dan lainnya.

namun kalau kita lihat lebih mendalam, banyak komunitas yang mempunyai problem klasik: bagaimana mereka tetap bisa berkegiatan menyebarkan virus kebaikan itu ke delapan penjuru mata angin? untuk bisa melakukan itu sebuah komunitas perlu dana, pertanyaannya, bagaimana caranya komunitas bisa menghidupi dirinya sendiri?

menurut @savicali, life cycle-nya 2,5 tahun. banyak yang gugur setelah itu.

berarti komunitas harus mempunyai dana untuk menggerakkan program-programnya yang keren itu. dari mana memperolehnya? beberapa alternatifnya adalah dari donatur, baik member maupun non member, dari brand atau dari bisnis social? (sebenarnya aku juga belum paham dengan bisnis sosial ini)

apapun alasannya, kalau sampai benar-benar bubar, peristiwa tak berlanjutnya pesta blogger akan terulang. untung belum ada menteri yang menetapkan tanggal sekian menjadi hari social media atau apapun namanya.

akankah era berkomunitas akan berakhir? lalu selanjutnya apa?


TAGS komunitas


-

Author

Follow Me