Archive for the ‘film’ Category

rindu purnama, rindu kita untuk berbagi ke sesama

February 14th, 2011, posted in film

23_big

film pertama mathias muchus ini bagus. penggarapannya detail dan pas. semua actornya memerankan tokoh-tokohnya dengan pas. teuku firmansyah yang mewakili eksekutif muda yang shaleh. titi sjuman yang antagonis dan anak-anak jalanan yang merupakan potret lusuhnya jakarta hari ini.

meski tema anak jalanan suda sering difilmkan, menonton film ini tetalpah inspiratif. kita diajak lebih mengenal kehidupan anak jalanan yang tidak saja menyedihkan: terpisah dari orang tua, tidak sekolah dan selalu dalam keadaan tak tenang karena diteror satpol pp.

meski selalu dalam keadaan darurat, mereka tetaplah anak-anak polos, lucu dan original. film rindu purnama tak terjebak pada cerita klise yang menye-menye. saya jadi teringat film pengemis dan tukang beca (1978) yang diperani christine hakim yang memenangi piala citra.

rindu purnama sangat menggugah iman. kita seolah disadarkan, di luar sana ada kehidupan anak-anak yang keras dan perlu solusi. karena kita tak pernah mengenal mereka, kita selalu berprasangka buruk. (celakanya memang tak semua anak jalanan lucu dan baik). andai saja kita punya kesempatan hidup bersama mereka, kita mungkin akan sedikit memahami apa yang mereka rasakan.

rindu purnama dibuka dengan landskap kota jakarta dengan jalan-jalan layangnya. indah,tak salah jika banyak orang sampai sekarang masih mengkhayalkan, jakarta adalah kota impian. namun di bawah jalan itulah para gembel dan anak jalanan tinggal. berumah disela-sela sampah. miris.

di situlah purnama tinggal di sebuah rumah singgah bersama puluan teman-temannya. permasalahan muncul ketika rindu hilang. seisi rumah heboh mencari, namun tidak ketemu. adiknya, akbar 3 th (duh si sss ini bermain sangat bagussss) sangat merindukan kakaknya. namun kemana harus mencarinya di kota sebesar ini?

selama 120 menit menonton film ini tak pernah membosankan. karena selain masalah anak jalanan, rindu purnama juga mengajarkan, cinta tak selamanya ditukar dengan apapun yang kita miliki. moniq, anak bos dimana surya bekerja jatuh cinta. dengan kekuasaan yang ia miliki ia berusaha mencintai surya.

yang paling menarik menurutku adalah proses surya yang sebelumnya hidup di dunianya sendiri, pelan-pelan memahami, ada kehidupan lain yang tak kalah inspiratifnya. ada suatu masa, dimana uang tak laku untuk membeli cinta.

vegetarian: perempuan yang terobsesi menjadi pohon

November 15th, 2010, posted in film

dari judulnya film korea ini unik, vegetarian? pikiran kita pastinya akan segera membayangkan pola makan yang menolak menyantap binatang atau makhluk hidup lainnya. biasanya para vegan (pelaku vegetarian) beralasan, para binatang tersebut juga berhak memiliki kebahagiaan seperti manusia.

namun bagi yeong-hye (chae min-seo) ia menjadi vegetarian karena mimpi. selain juga waktu kecil ia melihat ayahnya membunuh anjingnya, menghidangkannya untuk menu makan malam.

karena itu yeong hye kurus kering. (dan chae min-seo memerankannya sangat luar biasa) proses menjadi kurusnya sangat keliatan, tampak dari tulang-tulang iganya yang menonjol). obsesinya menjadi vegetarian merenggangkan hubungan dengan suaminya.

namun ternyata yeong-hye mengidap skizofrenia dan aneroxia akut. pendeskripsian bagaimana perempuan itu berimajinasi sangat kuat. yeong hye hanya mau bercinta dengan laki-laki yang tubuhnya dilukisi pohon atau bunga-bunga.

konflik tidak berhenti disitu. kim hyun-shung, seorang pelukis yang sekaligus kakak iparnya jatuh cinta. namun hal ini tak membuat isterinya marah. isterinya menganggap keduanya perlu memperoleh terapi mental.

puncaknya yeong hye ingin menjadi pohon. ia menolak makan, ia menolak di rawat di rumah sakit. film ini pernah diputar di 2010 sundance film festival.

eat pray love: pencarian cinta di tiga negara

October 13th, 2010, posted in film

epl1

kursi di ruangan studio 2 xxi pejaten village pukul rabu (13/10) pukul 12:45 nyaris penuh. mereka yang akan menonton film terbary julia robert itu cukup antusias. namun selalu saja ada orang-orang yang telat. padahal opening sebuah film sangat menentukan kesan baik buruknya sebuah film.

pada film yang nyaris dua jam ini, pemdangan bali dari atas mendominasi film di awal dan akhir. film ini diangkat dari sebuah novel yang berjudul sama eat pray love karya elizabeth gilbert. meski berada di puncak karir, perempuan modern ini merasa hidupnya kering. tak ada sesuatu yang ia kagumi lagi. ia merasa perlu keluar dari rutinitas keseharian sebagai orang metropolitan.

mulailah ia melakukan perjalanan. tujuan pertamanya adalah italia. di tempat ini ia memuaskan hasratnya dengan menikmati spageti, pizza dan eskrim. ia merasa menemukan dirinya seperti 15 tahun lalu yang bersemangat. ia tak mempedulikan berat badannya yang terus bertambah.

dari teman akrabnya ia menuju india. di negeri terbesar di asia ini liz (yang diperankan oleh julia robert) bergabung dengan perkumpulan meditasi. di sini ia telah mulai menemukan keseimbangan. dan disini juga ia mulai belajar memaafkan dirinya sendiri.

film ini cukup datar. konflik yang dihadirkan juga tak begitu jelas. apa yang dialami liz adalah problem biasa warga metropolitan yang selalu bergelut dengan pekerjaan dan uang. andai kondisi semua seperti liz yang bebas financial, mereka akan melakukan hal yang sama. keluar dari rutinitas dan melakukan perjalanan memuaskan kesenangan.

dan kota terakhir yang dikunjungi adalah bali. di sini ia berguru kepada ketut lyer, dukun ompong yang bijak. petuah-petuahnya inspiratif. dari kakek inilah liz menemukan dirinya. dukun ketut mengajarkan bagaimana ia harus tersenyum. bukan saja senyum di bibir, tapi juga tersenyum wajahnya, juga hatinya.

nasehat dari ketut lyer yang paling aku ingat adalah jadikan setiap peristiwa itu petunjuk. dan jadikan setiap orang yang kau temui sebagai guru. cukup klise namun tetap relevan untuk menjadi orang yang bijak. dan di bali pun ia menemukan cintanya, david orang brazil yang tinggal dibali.

lengkap sudah perjalanan “spiritual” liz. perempuan itu kembali ke newyork. entah apakah kejenuhannya akan kambuh lagi? dan liz akan menulis buku lagi? :)

film tanah air beta, cinta keluarga melebihi segalanya

June 22nd, 2010, posted in film

berangkat ke bioskop menonton film ari sihasale selalu lebih bersemangat. ada “sesuatu”, bayaran yang kita peroleh dengan bergegas ke gedung bioskop. film terbarunya kali ini judulnya tanah air beta. seperti denias senandung di atas awan maupun king, ari sihasale selalu menyuguhkan ironi. indonesia punya kekayaan alam yang tak akan habis di eksplorasi sampai kiamat, namun rakyatnya melarat.

film produksi alenia ini fokus bahasannya bukan di situ. namun film berdurasi 90 menit ini mengangkat masalah pengungsi di atambua. akibat referendum 1999 hubungan keluara mereka terserak. ada yang terpisah dengan ayah, ibu ataupun anak. bahkan tak sedikit yang menjadi sebatang kara. mereka berpisah karena perbedaan pilihan.

para pengungsi itu adalah orang-orang yang begitu mencintai tanah airnya, indonesia. dan mereka harus rela berpisah dengan saudara dan keluarganya yang memilih timor loro sae sebagia tanah air barunya. sayang sekali, indonesia menyambutnya dingin, bahkan menelantarkan. hanya relawan dari pbb yang sesekali membantu mencari informasi tentang keluarganya di timor loro sae.

di tanah pengungsian yang gersang itu mereka berusaha menjadi satu keluarga besar.

seperti yang di alamai keluarga tatiana. ia terpisah dengan anak sulungnya, maru waktu masih bocah. saat ini tatiana tinggal di pengungsian bersama anak keduanya marry. rumah yang ia tinggali yang sangat tidak layak. rumah beratap ilalang dan berpagar bambu. 12 tahun sudah ia berada di pengungsian namun ia belum sempat bertemu.

sayang sekali, melalui relawan (lukman sardi) ia memperoleh kabar mauro yang dirundukan itu tak mau menemuinya. mauro merasa ditinggalkan waktu kecil. keadaan itu memperburuk kondisi fisik tatiana. melihat ibunya meri diam-diam berangkat ke matoain, daerah perbatasan timor loro sae dengan indonesia untuk menemui mauro.

berbekal sebotol air putih, sekerat coklat pemberian cik niren dan uang tabungan yang tak seberapa ia nekat. perjalanan untuk menemui kakak yang tak ia kenali wajahnya inilah bagian terpenting film ini. film yang diangkat berdasar kisah nyata ini seolah ingin mengatakan pentingnya persaudaraan dan cinta keluarga.

karena cintanya pada mama dan kakaknya, apapun dilakukan marry. tak bisa naik bus karena uang tak ada, ia nekad berjalan kaki melewati pegunungan. ia berjalan seharian tanpa makan, dan akhirnya bocah perempuan 10 tahun itu pun pingsan di tengah jalan. film ini cukup menarik dan sangat rekomended, apalagi untuk para remaja, bisa dijadikan film wajib untuk mengisi liburan.